gangguan berbicara

literature project and need support to help me learn.

PEMBAHASAN
2.1 Gangguan Berbicara
Berbicara merupakan aktivitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh karena itu, gangguan berbicara ini dapat dikelompokkan kedalam dua kategori. Pertama, gangguan mekanisme berbicara yang yang berimplikasi pada gangguan organik. Dan kedua, gangguan berbicara psikogenik.
Gangguan Mekanisme Berbicara
Gangguan Akibat Multifaktorial
Gangguan Psikogenik
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan (perkataan) oleh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk rongga mulut serta kerongkongan, dan peru-paru. Maka gangguan berbicara berdasarkan meknismenya ini dapat dirinci menjadi gangguan berbicara akibat kelainan pada paru-paru (pulmonal), pada pita suara (laringan), pada lidah (lingual), dan pada rongga mulut dan kerongkongan (resonantal).
Gangguan Akibat Faktor Pulmonal
Gangguan Akibat Faktor Laringan
Gangguan Akibat Faktor Lingual
Gangguan Akibat Faktor Resonansi
Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru. Para penderita penyakit paru-paru ini kekuatan bernafasnya sangat kurang, sehingga cara berbicaranya diwarnai oleh nada yang monoton, volume suara kecil sekali, dan terputus-putus, meskipun dari segi semantik dan sintaksis tidak ada masalah.
Gangguan pada pita suara menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi serak atau hilang sama sekali. Gangguan berbicara akibat faktor laringan ini ditandai oleh suara yang serak atau hilang, tanpa kelainan semantik dan sintaksisnya. Artinya, dilihat dari segi semantik dan sintaksis ucapannya bisa diterima.
Lidah yang sariawan atau terluka akan terasa pedih kalau digerakkan. Untuk mencegah timbulnya rasa pedih ini ketika berbicara maka gerak aktivitas lidah itu dikurangi secara semaunya. Dalam keadaan seperti ini maka pengucapan sejumlah fonem menjadi tidak sempurna, sehingga misalnya, kalimat “sudah barang tentu dia akan menyangkal” mungkin akan diucapkan menjadi “hu ah ba-ang ke-ku ia a-an me- angkay”. Pada orang yang terkena stroke dan badannya lumpuh sebelah, maka lidahnya pun lumpuh sebelah. Oleh karena itu, cara berbicaranya juga akan terganggu, yaitu menjadi pelo atau cadel. Istilah medisnya di satria (yang berarti terganggunya artikulasi).
Gangguan akibat faktor resonansi ini menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau. Pada orang sumbing, misalnya. Suaranya menjadi tersengau (bindeng) karena rongga mulut dan rongga hidung yang digunakan untuk berkomunikasi melalui defek di langit-langit keras (palatum), sehingga resonansi yang seharusnya menjadi terganggu. Hal ini terjadi juga pada orang yang mengalami kelumpuhan pada langit-langit lunak (velum). Rongga langit-langit ini tidak memberikan resonansi yang seharusnya, sehingga suaranyamenjadi tersengau. Penderita penyakit miastenia gravis (gangguan yang menyebabkan otot menjadi lemah dan cepat lelah) sering dikenali secara langsung karena kesengauan ini.
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor bisa menyebabkan terjadinya berbagai gangguan berbagai gangguan berbicara. Antara lain adalah berikut ini:
Berbicara Serampangan
Berbicara Propulsif
Berbicara Mutis (Mutisme)
Berbicara serampangan atau semberono adalah berbicara dengan cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan “menelan” sejumlah suku kata, sehingga apa yang diucapkan sukar dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari kasus ini memang jarang dijumpai; tetapi di dalam praktek kedokteran sering ditemui. Umpamanya kalimat “kemarin pagi saya sudah beberapa kali kesini” diucapkan dengan cepat menjadi “kemary sdada berali ksni”. Berbicara serampangan ini karena kerusakan di serebelum atau bisa juga terjadi sehabis terkena kelumpuhan ringan sebelah badan.
Gangguan berbicara propulsif biasanya terdapat pada para penderita penyakit parkoinson (kerusakan pada otak yang menyebabkan otot menjadi gemetar, kaku dan lemah). Para penderita penyakit ini biasanyabermasalah dalam melakukan gerakan-gerakan. Mereka sukar sekali untuk memulai suatu gerakan. Namun, bila sudah bergerak maka ia dapat terus menerus tanpa henti. Gerak yang laju terus itu disebut propulsi. Pada waktu berbicara ciri khas ini akan tampak pula. Artikulasi sangat terganggu karena elastisitas otot lidah, otot wajah, dan pita suara, sebagian besar lenyap. Dalam pada itu volume suaranya kecil, iramanya datar (monoton). Suaranya mula-mula tersendat-sendat, kemudian terus menerus, dan akhirnya tersendat-semdat kembali. Oleh karena itu,cara berbicara seperti ini disebut propulsif.
Penderita gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali. Sebagian besar dari mereka mungkin masih dapat dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak mau bicara. Mutisme ini sebenarnya bukan hanya tidak dapat berkomunikasi secara verbal saja tetapi juga tidak dapat berkomunikasi secara visual maupun isyarat, seperti dengan gerak-gerik, dan sebagainya.
Dunia ilmiah sebenarnya belum dapat menjelaskan dengan tepat apa ,mutisme itu. Oleh karena itu, tak heran kalau kita dapatkan berbagai teori dan anggapan dari berbagai pihak tentang mutisme itu. Oleh karena itu pula, setiap orang yang tidak dapat berkomunikasi verbal dinyatakan sebagai mutistik. Dengan begitu seseorang yang membisu sebagai tindakan protesnonverbal dapat dianggap menderita mutisme histerik, padahal sebenarnya merupakan sindrom konversi histerik. Perwujudan histeria lain adalah mutisme elektif karena membisunya itu ditujukan kepada orang-orang tertentu saja, misalnya kepada gurunya atau pacaranya. Dewasa ini apa yang dulu dikenal sebagai mutisme akinetik lebih dikenal sebagai locked-in syndrome. Dalam hal ini, si penderita masih hidup karena jantung, paru-paru, ginjal, hati, dan hampir organ masih berfungsi. Hanya gerakan voluntar, pikiran, minat, keinginan dan semua fungsi luhur lainnya sudah tidak bekerja sama sekali. Mutisme lain diketahui penyebabnya. Hanya baru diperkirakan mutisme ini mungkin suatu keadaan jiwa yang terganggu sejak dilahirkan (Sidharta, 1982).
Multisme tidak bisa disamakan dengan orang bisu, apalagi dengan bisu tuli. Dalam hal kebisuan ini sebenarnya perlu dibedakan adanya tiga macam penderita. Pertama, orang yang bisu karena kerusakan atau kelainan alat artikulasi, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran bahasa; tetapi alat dengarnya normal sehingga dia dapatmendengar suara bahasa orang lain. Kedua, orang yang bisu karena kerusakan kelainan alat artikulasi dan alat pendengarnya, sehingga dia tidak bisa memproduksi ujaran bahasa dan juga tidak mendengar ujaran bahasa orang lain. Ketiga, orang bisu yang sebenarnya alat artikulasinya normal tidak ada kelainan; tetapi alat pendengarannya rusak atau ada kelainan. Orang golongan ketiga ini menjadi bisu karena dia tidak pernah mendengar ujaran bahasa orang lain, sehingga dia tidak bisa menirukan ujaran bahasa itu.
Pasien golongan pertama, yang alat artikulasinya rusak atau mengalami kelainan, sedangkan alat dengarnya normal, kalu fungsi hemisfer otak yang dominannya normal, masih akan dapat berkomunikasi. Hanya tentunya, jika diajak bertutur dia akan menjawab atau bertanya dalam bahasa isyarat, atau dalam bahasa tulis (jika dia sudah belajar menulis). Pasien golongan kedua yang bisu tuli karena alat artikulasi dan alat pendengarannya rusak, kalau fungsi hemisfer otak yang dominannya normal, masih akan dapat berkomunikasi dengan bahasa isyarat atau dengan bahasa “membaca bibir”. Untuk dapat berkomunikasi itu tentunya mereka memerlukan pendidikan dan pelatihan khusus yang memakan banyak waktu.
Pasien golongan ketiga yang menjadi bisu karena kerusakan atau kelainan alat dengarnya, kalau fungsi hemisfer otak yang dominannyanormal, masihbisa dilatih untuk memproduksi ujaran bahasa secara tidak sempurna karena dia tidak bisa mendengar ujaran bahasa itu. Pelatihan dilakukan dengan cara dia disuruh memperhatikannya, memegang dan merasakan “gerak mulut” pelatih bicaranya. Ia pun tentu memerlukan waktu yang cukup lama. Ketiga golongan pasien kasus kebisuan tidak berkaitan dengan fungsi otak. Hanya barang kali perkembangan fungsi otak itu yang terganggu.
Selain karena faktor gangguan mekanisme berbicara sebagaimana dijelaskan diatas, ada juga gangguan berbicara disebabkan segi mental atau psikogenik. Gangguan ini bersifat lebih ‘ringan’ karena itu lebih tepat disebut sebagai variasi cara berbicara yang normal sebagai ungkapan dari gangguan mental. Modalitas mental ini terungkap dari nada, intonasi, intensitas suara, lafal, dan diksi atau pilihan kata. Ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan sikap mental si pembicara. Gangguan psikogenik ini antara lain sebagai berikut:
Berbicara Manja
Berbicara Kemayu
Berbicara Gagap
Berbicara latah
Disebut berbicara manja karena ada kesan keinginan untuk dimanja sebagaimana anak kecil yang membuat perubahan pada cara bicaranya. Fonem (s) dilafalkan (c) sehingga kalimat “sakit sekali susah sembuhnya” menjadi “cakit cekali cucah cembuhnya”. Gejala seperti ini dapat diamati pada orang tua pikun atau jompo (biasanya wanita).
Menurut Sidharta (dalam Chaer, 2009) istilah kemayu mengacu pada perangai kewanitaan yang berlebihan yang dalam hal ini ditunjukkan oleh seorang pria. Berbicara kemayu dicirikan oleh gerak bibir dan lidah yang menarik perhatian dan lafal yang dilakukan secara menonjol atau ekstra lemah gemulai dan memanjang. Meskipun berbicara jenis ini tidak langsung termasuk gangguan berbahasa, tetapi dapat dipandang sebagai sindrom fonologik yang mengungkapkan gangguan identitas kelamin.
Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama, kata-kata berikutnya, dan setelah berhasil mengucapkan kata-kata itu kalimat dapat diselesaikan. Seperti orang yang ingin mengatakan, ”awas ada pohon tumbang”, tetapi ia mengucapkannya secara terputus dan berulang-ulang sehingga menjadi seperti berikut, “a’…..a…aw…awwasss. Apa yang menyebabkan terjadinya gagap ini masih belum diketahui secara pasti, tetapi hal-hal berikut dianggap mempunyai peranan penting penyebab terjadinya gagap:
Faktor stres dalam kehidupan berkeluarga
Pendidikan anak yang dilakukan secara keras dan ketat, dengan membentak-bentak; serta tidak mengizinkan anak berargumentasi dan membantah.
Adanya kerusakan pada belahan otak (hemisfer) yang dominan.
Faktor neurotik famial.
Jika hal ini terjadi pada anak-anak para orang tua sebaiknya tidak menganggap lucu atas keadaan ini karena akan membuat anak tersebut merasa malu bahkan akan memperparah gagapnya. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan jika menghadapi seorang anak yang gagap:
Bersikap sabar dan tenang
Menyarankan anak untuk bicara dengan tenang dan perlahan jangan menirukannya
Berbicaralah dengan tenang dan perlahan-lahan dan jelas sehingga anak tersebut mempunyai banyak kesempatan untuk menirukan percakapan tersebut.
Berikan anak tersebut kesempatan untuk berbicara dan jangan memotong pembicaraannya.
Berilah penghargaan kepadanya jika ia dapat berbicara dengan baik.
Latah adalah respon reflektif berupa perkataan atau perbuatan yang tidak terkendali yang terjadi ketika seseorang merasa kaget. Latah bukanlah penyakit mental, tapi lebih merupakan kebiasaan yang tertanam di pikiran bawah sadar. Setiap orang latah punya respon yang berbeda-beda dalam bereaksi terhadap stimulus yang mengagetkan, diantaranya:
Mengulangi perkataan orang lain
Meniru gerakan orang lain
Mengucapkan kata-kata tertentu berulang-ulang (biasanya kata-kata jorok)
Melaksanakan perintah secara spontan pada saat terkejut, misalnya; ketika penderita dikejutkan dengan seruan perintah seperti ”jongkok” atau “loncat”, dia akan melakukan perintah itu seketika.
Latah sering disamakan dengan ekolalla, yaitu perbuatan membeo, atau menirukan apa yang dikatakan orang lain; tetapi sebenarnya latah adalah suatu sindrom yang terdiri atas curah verbal repetitif yang bersifat jorok (koprolalla) dan gangguan lokomotorik yang dapat dipancing. Koprolalla pada latah ini berorientasi pada alat kelamin laki-laki. Yang sering dihinggapi penyakit latah ini adalah orang perempuan berumur 40 tahun ke atas. Awal mula timbulnya latah ini, menurut mereka yang terserang latah, adalah ketika bermimpi melihat banyak sekali penis lelaki yang sebesar dan sepanjang belut. Latah ini punya korelasi dengan kepribadian histeris. Kelatahan ini merupakan ”excuse” atau alasan untuk dapat berbicara dan bertingkahlaku porno, yang pada hakikatnya berimplikasi invitasi seksual (lihat juga W.F.Maramis, 1998: 416-418).
Latah memang bukan gangguan psikologis yang serius dan malah banyak orang menganggapnya sebagai hiburan atau sesuatu yang lucu. Namun jika seseorang ingin tampil berwibawa atau jika ia tidak ingin lagi menjadi bahan godaan atau tertawaan orang lain, maka ia harus menghilangkan kebiasaan latahnya. Ada dua syarat yang harus dipenuhi agar kebiasaan latah bisa dihilangkan dengan cepat dan hasilnya permanen, yaitu:
Harus sungguh-sungguh ingin berubah dan serius ingin menghilangkan kebiasaan latah Anda.
Harus setuju untuk menganggap latah sebagai kebiasaan yang kurang baik dan merugikan diri sendiri.
Kebiasaan latah akan sulit dihilangkan atau bisa saja kambuh sewaktu-waktu apabila penderita menganggap menjadi latah itu lucu, menguntungkan dan menyenangkan.
2.2 Gangguan Berbahasa
Berbahasa berarti berkomunikasi dengan menggunakansuatu bahasa. Bagaimana kemampuan berbahasa dikuasai manusia, berkaitan erat dan sejalan dengan perkembangan manusia yang baru lahir itu. Kanak-kanak yang lahir dengan alat artikulasi dan auditori yang akan dapat mendengar kata-kata dengan baik dan juga akan dapat menirukan kata-kata itu. Pada mulanya ucapan tiruannya itu Cuma mirip tetapi lambat laun akan menjadi tegas dan jelas. Proses memproduksi kata-kata itu berlangsung terus berjalan dengan proses pengembangan, pengenalan, dan pengertian (gnosis dan kognisis). Dalam perkembangan itu kata-kata akan menjadi perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata yang mengandung makna. Umpamanya, kata ayam menjadi simbol dari binatang berkaki dua yang bersayap, tetapi tidak terbang seperti burung. Dia hidup dan berjalan di atas bumi seperti anjing, tetapi tidak menggonggong, melainkan berkokok. Setingkat lebih maju lagi kemudian kata ayam diasosiasikan dengan jenis, kegunaan, kualitas, dan sebagainya. Dengan demikian kemampuan untuk diferensiasi antara ayam jantan dan betina, ayam kampung dan ayam negeri, daging ayam dan daging sapi, sudah diperoleh. Proses berbicara dan mengerti bahasa adalah proses serebral, yang berarti proses ekspresiverbal dan komperhensi auditorik itu dilaksanakan oleh sel-sel saraf di otak yang disebut neuron. Proses neuron di otak ini sangat rumit sekali untuk bisa dipahami. Barangkali kalau disederhanakan bisa kita umpamakan dengan alat komputer yang dapat menyimpan (storage) semua masukan dalam bentuk sendi elektronik (coding), yang dapat diangkat kembali (recall) dari simpanan itu. Kemudian alat komputer ini mengalihkan sandi itu dalam bentuk yang dapat dipahami oleh dunia diluar komputer (decoding). Gudang tempat penyimpanan sandi ekspresi kata-kata di otak adalah didaerah broca, sedangkan gudang tempat penyimpanan sandi komperhensi kata-kata adalah didaerah Wernicke.
Berbahasa, seperti yang sudah disebutkan diatas, berarti berkomunikasi dengan menggunakan suatu bahasa. Untuk dapat berbahasa diperlukan kemampuan mengeluarkan kata-kata. Ini berarti, daerah broca dan wernicke harus berfungsi dengan baik. Kerusakan pada daerah tersebut dan sekitarnyamenyebabkan terjadinya gangguan bahsa yang disebut afasia, dalam hal ini broce sendiri menamai afemia.
Perkembangan gerak poluntar pada otak yang pada mulanya bersifat kaku dan kasar, kemudian menjadi luwes, ternyata tidak terjadi pada kedua belah otak (hemisterium) secara sama. Mekanisme neuronal yang mendasari penyempurnaan gerakan voluntar itu ternyata lebih lengkap dan lebih rumit hanya pada salah satu belah otak saja. Oleh karena itu, terdapatlah orang-orang yang lebih mampu menggunakan anggota gerak yang sebelah kiri dari pada sebelah kanan, atau sebaliknya. Maka terdapatlah orang-orang kidal atau tidak kidal. Belahan otak (hemisferium) yang memiliki organisasi neuronal yang lebih sempurna itu dikenal sebagai hemisferium yang dominan. Dalam pertumbuhan dan perkembangan otak pembentukan daerah Broca dan Wernicke terjadi pada hemisferium yang dominan. Pada orang kidal hemisferium kananlah yang dominan, dan pada orang yang tidak kidal, hemisferium kirilah yang dominan. Perhatikan bagan otak tersebut (yang sudah kita bicarakan pada Bab VII).
Gambar
Bagian ini menunjukan otak mempunyai setangkup daerah reseptif auditorik primer (1), setangkup daerah reseptif sekunder (4), setangkup daerah reseptif visual (5), setangkup daerah motorik suplementer (7), dan setangkup daerah motorik primer (8). Disamping itu juga memiliki setunggal daerah pengenalan kembali (kognisio) data auditorik dan visual (3), dan setunggal daerah ekspresi perkataan (6). Daerah fungsional yang setunggal berlokasi pada hemisferium yang dominan. Penyaluran impuls dari daerah fungsional di hemisferium yang tidak dominan ke hemisferium yang dominan dilakukan melalui serabut-serabut korpus kolasum, yakni serabut asosiasi (yang menghubungkan) kedua hemisferium. Data auditorik (lafal, perkataan) ditangkap di (1) kedua sisi (belahan otak kiri – kanan). Data itu disampaikan juga kepada (2) sehingga perkataan dapat diidentifikasikan sebagai simbol bahasa lisan. Pengenalan kembali (kognisio) lafal perkataan diatas oleh (3) yang juga mengurus proses kognisio lainnya, seperti kognisio visual dan taktil. Inisiasi berbicara sangat mungkin diurus oleh (3), yang memerintahkan (2), untuk menghubungi (6), agar mengeluarkan perintah pelaksanaan gerakan otot-otot kepada (8), sehingga menghasilkan lafal perkataan. Sekaligus dengan itu (6),memesankan kepada (7) untuk mengatur gerakan yang menghasilkan perkataan itu berjalan secara terpadu. Dalam hal ini proses berbahasa tulis diatur melalui (5) dan (4), yang dalam pembahasan bahasa lisan tidak akan disinggung.
Kajian tentang afasia atau afasialogi dalam pengembangannya menghasilkan berbagai taksonomi yang sangat menbingungkan seperti yang dibuat oleh Benson (1975), Rapin (neurolg kanak-kanak), dan Allen (psikolinguis) (Rapin dan Allen, 1988); tetapi taksonomi yang telah disederhanakan oleh Benson, afasia ini dibedakan atas afasia ekspresi atau afasia motorik, yang dulu dikenal sebagai afasia tipe Broca, dan afasia reseptif atau afasia sensorik yang dulu dikenal sebagai afasia Wernicke. Berikut dibicarakan jenis-jenis afasia itu.
Afasia Motorik
Afasia motorik Kortikal
Afasia MotorikSubkortikal
Afasia Motorik Transkortikal
Afasia Sensorik
Didapati adanya tiga macam afasia motorik ini, antara lain:
Tempat menyimpan sandi-sandi perkataan adalah korteks daerah broca. Maka apabila gudang penyimpanan itu musnah, tidak akan ada lagi perkataan yang dapat dikeluarkan. Jadi afasia motoric adalah hilangnya kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Penderitanya masih mengerti bahasa lisan dan tulisan, namun ekspresi verbal tidak bisa sama sekali.
Sandi-sandi perkataan disimpan di lapisan permukaan (korteks) daerah broca, maka apabila kerusakan terjadi pada bagian bawahnya (subkortikal) semua perkataan masih tersimpan utuh di dalam gudang. Namun, perkataan itu tidak dapat dikeluarkan karena terputus, sehingga perintah untuk mengeluarkan perkataan masih dapat disampaikan ke gudang penyampaian perkataan itu (gudang broca) sehingga ekspresi verbal masih mungkin dengan pancingan jadi penderitanya tidak dapat mengeluarkan isi pikirannya dengan menggunakan perkataan, tetapi masih bisa berekspresi verbal dengan membeo.
Afasia motoric transkortikal terjadi karenaterganggunya hubungan langsung antara daerah broca dan wernice. Ini berarti, hubungan langsung antara pengertian dan ekspresi bahasa terganggu. Pada umumnya afasia motoric transkortikal ini merupakan lesikortikal yang merusak sebagian daerah broca. Jadi penderitanya dapat mengutarakan perkataansubtitusinya. Misalnya, untuk mengatakan pensil sebagai jawaban atas pertanyaan “Barang yang saya pegang ini namanya apa?”. Dia tidak mampu mengeluarkan perkataan itu. Namun, mampu untuk, mengeluarkan perkataan ,”itu ,tu ,tu ,tu ,untuk menulis.” Afasia ini disebut juga afasia nominative.
Penyebab terjadinya afasia sensorik adalah akibat adanya kerusakan pada lesikortikal di daerah Wernicke pada hemisferium yang dominan. Daerah itu terletak di kawasan asosiatif anatara daerah visual, daerah sensonik, daerah motorik, dan daerah pendengaran. Kerusakan di daerah Wernicke ini menyebabkan bukan saja pengertian dari apa yang didengar (pengertian auditorik) terganggu, tetapi juga pengertian dari apa yang dilihat (pengertian visual) ikut terganggu. Jadi, penderitaafasia sensorik ini kehilangan pengertian bahasa lisan dan bahasa tulis. Namun, dia masih memiliki curah verbal meskipun hal itu tidak dipahami oleh dirinya sendiri maupun oleh orang lain. Curah verbalnya itu merupakan bahasa baru (neologisme) yang tidak dipahami oleh siapa pun. Curah verbalnya itu sendiri dari kata-kata, ada yang mirip, ada yang tepat dengan perkataan bahasa apapun. Neologisme itu diucapkannya dengan irama, nada, dan melodi yang sesuai dengan bahasa asing yang ada. Sikap mereka pun wajar-wajar saja, seakan-akan dia berdialog dalam bahasa yang saling dimengerti. Dia bersikap biasa, tidak tegang, marah, atau depresif. Sesungguhnya apa yang diucapkannya maupun apa yang didengarnya (bahasa verbal yang normal), keduanya sama sekali tidak dipahaminya.
Requirements:

Similar Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *